Seorang teman di kota
yang lain juga bercerita tentang atasannya. Dia sangat senang mempunyai
atasan yang penuh perhatian dan lembut pada bawahannya. Bahkan tak
jarang atasannya itu memberikan hadiah kepada para bawahan untuk setiap
prestasi mereka walaupun itu hanya hal kecil. Senada dengan itu, temanku
yang lain juga bercerita tentang atasannya yang sangat “fair”, dalam
artian penuh toleransi dan dekat dengan bawahan layaknya teman. Dan
kedua temanku yang terakhir ini juga menyimpulkan hal yang sama,
kesuksesan mereka sangat di pengaruhi (kalau bukan di sebabkan) oleh
atasan mereka yang “baik” dan “fair” itu. Sekali lagi, benarkah demikian
?
Apa yang terpikir di
benak kita saat mendengar cerita dari teman-temanku tersebut? Sepintas
cukup bertolak belakang bukan? Namun bila sedikit mendalam, kita akan
temukan ada satu point penting yang menjadi kesamaan dari dua versi
cerita tersebut, yaitu SIKAP. Kenapa?
Versi pertama mendapat
perlakuan kasar dari atasannya setiap saat. Namun itu bukanlah hal yang
menjadikannya kehilangan motivasi. Bahkan sebaliknya semangatnya untuk
terus belajar dan memperbaiki diri muncul dari sikap atasan yang menurut
kita tidak memenuhi kriteria pemimpin ideal tersebut. Karena itulah
sangat wajar jika mereka akhirnya menemukan kesuksesan yang mereka cari.
Sedang versi kedua
mendapat perlakuan yang baik bertubi-tubi dari atasannya. Namun sekali
lagi itu bukanlah suatu hal yang menyebabkannya merasa nyaman dan
terbuai. Perlakuan baik itu mereka jadikan bahan bakar bagi semangat
mereka untuk terus naik menuju puncak kesuksesan.
Sobat, untuk selalu
bisa bersikap benar terhadap permasalahan dan tantangan bukan tidak
perlu latihan. Hal ini karena dalam kondisi tertekan sering logika kita
terhimpit oleh perasaan dan ego kita. Oleh karena itu perlu kita ingat
pesan Rasulullah, “bila seseorang memutuskan suatu perkara dalam keadaan
marah, maka sama saja bermusyawarah dengan syetan”.so..stay calm and
let’s show our best attitude…
Salam inspirasi…sukses…!!!


0 komentar:
Posting Komentar